Home » My Reflection » Never Give Up, Never Surrender in Improving Your English

Never Give Up, Never Surrender in Improving Your English

Tulisan ini sengaja saya tulis dengan bahasa gado-gado, kadang dengan bahasa Indonesia, kadang dalam bahasa Inggris. Trust me I can write well in English, dan saya juga bisa menulis yang baik dalam bahasa Indonesia he he he…. but for this time I just want to have fun in writting. Jadi biasa nulis dengan style formal resmi karena untuk majalah atau untuk tugas kuliah, sekarang NO RULES…

Saya tuh suka bingung ya sama mahasiswa/wi akuntansi yang ignorance banget dengan kemampuan bahasa inggris mereka. Dipikir bisa kali jadi akuntan hebat tanpa kemampuan bahasa inggris ? Duh please deehhh…. let me tell you a story of one of my student…

Saya punya mahasiswi dulu yang puiiinnteeerrrnya ampuuuun deh. Asisten dosen paling tajam, anaknya rada songong sih tapi pekerja keras. Sering menang lomba akuntansi di mana-mana. Tapi kemudian ditolak terus masuk ke Big Four karena gagal terus tes bahasa inggrisnya. Akhirnya masuk juga sih dia ke Big Four dengan jaminan khusus dari ketua jurusan kampusnya. Dan setelah masuk, dia sih survive di sana dan supervisornya happy, tapi kerasa banget betapa bahasa inggris akan jadi ganjalan buat karirnya dia. Mana bisa ngarep jadi partner kalau gak bisa berbahasa inggris? So if you don’t meet the minimum english requirement, you just simply can not go in. Many doors will be closed for you just because you don’t master this language.

English is a language, you have to use it EVERYDAY to own it and maintain it. Gak bisa berharap kursus 3 bulan, lalu test TOEFL dapat 550 atau IELTS 6.5 terus berhenti belajar. High Score in English Test should NEVER become your goal in learning English!

Dan apakah harus kursus bahasa inggris supaya English kita bagus. Well if you have money and time, I suggest you to join an english course. Tapi gak bisa dong berharap kursus 2 kali seminggu bisa signifikan? Let me tell you my affair with English so you can learn and be inspired

Don’t worry, ETW bukan anak diplomat, kedua orang tua saya jawa asli dan kakak-kakak saya juga gak bisa bahasa inggris kok. So all the tips I share with you will be easy to follow for everyone.

Love the process of learning English !

As any other you need to learn in life, everything will be easier if you love learning it. Kelas 6 SD, saya mendaftarkan diri ke kursus bahasa inggris gak jauh dari rumah saya. Seminggu dua kali. Yang mengantarkan saya mendaftar waktu itu paman saya. Dan saya jarang sekali bolos. Ketika SMP saya masih kursus di tempat itu plus kursus juga dengan guru bahasa inggris bersama kawan-kawan sekolah (bukan native speaker lho), jadi kursus seminggu empat kali. Kursus bahasa inggris bagus untuk memberikan pondasi, but for making English our own language, we need extra effort.

Sejak SMP sampai kuliah saya punya banyak sahabat pena di luar negeri (dulu belum ada on line chatting bo), jadi uang jajan saya habiiisss aja untuk beli perangko. Saya punya sahabat di Ohio (US), Ghana (Africa), juga beberapa sahabat pena di Indonesia. Ada lho yang sampai sekarang masih berkabar di FB. Menulis surat dalam bahasa inggris memperlancar writing saya.

Untuk speaking nya gimana? Sejak SMP kalau hari minggu, saya sering main ke Taman Mini Indonesia Indah, kebetulan dekat dengan rumah saya, dan kenalan dengan turis-turis bule. Awalnya sih suka dicurigain sama mereka, dikirain saya mau minta uang kali. Tapi ketika mereka tahu saya hanya mau ngobrol dan berlatih bahasa inggris mereka jadi senang. I usually open my conversation with “Hello, my name is Ersa. Can I give you a free tour of this park? I don’t want your money, I just want to practice my English by speaking with you. Where are you from?” tentunya disertai dengan senyuman lebar dan wajah innocent. Saya ingat kenalan dengan turis dari Polandia, Rusia, Amerika, Perancis, Australia, dsb. Ticket masuk ke TMII hanya Rp.1000 rupiah kala itu, ongkos angkot ke taman mini bolak balik hanya Rp.2000, plus sebotol air dan sendal yang nyaman. Murah, Meriah, Efektif, Sedikit Nekad…. he he he

You know what… this has been a great activities for me, because I have to learn about Indonesia’s culture as well to be able to explain Taman Mini to this tourist. I learn how to do ice breaker, it needs a lot of courage to introduce your self to the strangers…. and gain their trust. Jangan salah…. saya banyak juga ditolak, mereka ketakutan dan ngeloyor aja pergi ha ha ha… Pernah juga ketemu turis kere dari Perancis, malah akhirnya saya traktir dia makan siang dan kasih dia uang untuk naik metromini balik ke hotelnya di jalan Jaksa….

So, if girls in my age on Sunday go with their friends to the malls, watching movies, atau pacaran… ETW mah belajar bahasa inggris. Abis keliling taman mini biasanya kecapekan, kadang-kadang kaki sampai pada lecet. Pas jaman kuliah saya sering ke Kebun Raya Bogor atau ke Monas untuk ngobrol sama bule-bule ini. Ingaaat banget ketemu Bule udah rada tua dari Brisbane di Kebun Raya Bogor, kemudian saya ajak dia ke Puncak, dia seneng banget lihat kebun teh. Kemudian saya dikasih buku bagus dan diberi alamatnya dia bilang “if you go to Australia, please contact and find me”. Of course I never did he he he…. saya gak pernah punya niat lebih dari “practising my English”

How about my reading? I love to read and I love books. Hobi saya yg lain sepulang sekolah atau kalau sabtu, jalan-jalan ke pasar buku bekas di Jatinegara dan Kwitang, Senen. Saya beli tuh majalah-majalah remaja yang bekas seperti “seventeen” atau novel-novel bahasa inggris yang bekas. Mana punya uang untuk beli yang baru? Saya suka baca cerita cerita pendek. Kalau saya gak suka sama ending ceritanya, saya tulis ulang tuh cerita pakai ending saya ha ha ha…. Akhirnya saya jadi suka juga nulis cerpen dalam bahasa inggris. Pernah salah satu cerpen saya dimuat di majalah tempat kursus LIA waktu saya SMA.

Kadang-kadang bisa seharian dari pagi sampai sore di pasar buku bekas. Yang dibaca di tempat 3 majalah, yang dibeli bawa pulang 10 majalah, lumayan 13 majalah totalnya (gak mau rugi he he he). Uang jajan, uang angpau lebaran, uang hasil saya jualan kue, pokoknya habiiisss aja untuk beli buku dan majalah bekas. Buku-buku tentang grammar dan buku untuk tes TOEFL juga saya beli yang bekas saja. Saking seringnya gaul sama penjual buku bekas, pernah saya gak kesana tiga bulan karena mau ujian akhir dan ketika ke sana banyak yang menyapa “Duh Neng kemane ajeee?” Ha ha ha…. Saya juga jadi anggota Perpustakaan Nasional lho dan perpustakaan British Council untuk meminjam buku-buku.

How about my listening? Well yang ini paling menyenangkan…. saya beli DVD film film berbahasa inggris, kemudian saya dengarkan tanpa text. Bisa ngerti gak saya. Karena kebanyakan film yang saya tonton adalah film amerika, jadinya telinga saya lebih ngerti logat amerika. Nah kalau sekarang kan sudah banyak pilihan film-film British atau Australia juga ya. Kadang saya nonton film sambil memejamkan mata, jadi betul betul hanya mengandalkan telinga aja. Baru setelah itu saya tonton lagi dengan text nya.

Ketika saya SMP-SMA, saya rajin mengikuti lomba lomba pidato dalam bahasa inggris. Bahkan saya punya 2 orang teman yang hobi juga ikutan lomba-lomba begini. Kita kalau di angkot suka ngobrol dalam bahasa inggris, dipandangin sama orang se-angkot, kita cuek aja pokoknya. Lomba sih banyakan kalahnya daripada menangnya ha ha ha…. gak masalah karena saya menyukai proses belajarnya.

Waktu kuliah saya ikutan lomba debat bahasa inggris, malah mendirikan debating club di kampus. Makanya jagoan ngeyel saya ha ha ha… Pokoknya apapun deeeeh dilakukan untuk meningkatkan level bahasa inggris… Saya dari SMP sampai S2 selalu bawa pocket dictionary ke mana-mana, sekarang sih instal aplikasi dictionary.com aja di mobile phone. Waktu kuliah, teman (dan dosen) sibuk nyari buku terjemahan text book akuntansi…. saya mah memaksakan diri untuk baca versi bahasa inggrisnya. Pokoknya maksa, ngotot, dan tidak pernah menyerah….

Maintaining your English… seriously!

Sejak kelas 2 SMA, TOEFL saya sudah 500. Sejak kelas 6 SD sampai SMA kelas 2 saya tidak pernah putus kursus bahasa inggris setidaknya seminggu dua kali (beda-beda tempat sih). Banyak yang komentar setelah kursus bahasa inggris setahun-dua tahun “ah gak ada efeknya”…. that is wrong! Peningkatan kemampuan bahasa inggris kadang susah untuk diukur, tapi setidaknya kalau kamu berhenti… your English will be worse.

Ketika kelas 3 SMA mendekati ujian akhir saya berhenti kursus bahasa inggris formal dan mulai mengajar bahasa inggris di salah satu tempat kursus. But I keep maintaining my English with my own way. Every year I took ITP TOEFL just to check my english quality (lagian murah cuma USD 25), ketika TOEFL mencapai 623 dan IELTS 7.5, saya berhenti test bahasa inggris setiap tahun. Setelah S2 di Melbourne, tahun 2005 saya ikutan Toastmaster club, English public speaking club di Jakarta. Toastmaster teach me how to become a great public speaker (in English) and in 2006 I become the first Indonesia ever become runner up in Toastmaster International Speech Contest in Penang, Malaysia (for District 51 level which covers Indonesia, Malaysia and Brunnei)

I maintain my English very seriously! I keep challenging my self to achieve higher level. Until now I never stop maintaining my English. It is a never ending effort! It is part of my routine just like I never stop learning about IFRS and accounting.

Jadi…. kalau sekarang saya bisa nulis artikel berbahasa inggris dan dimuat di majalah ACCA di UK, bisa ngajar IFRS berbahasa inggris di depan para akuntan Philippines di Manila bulan Februari lalu, bisa kuliah di luar negeri, itu BUKAN KEBETULAN!! Itu adalah hasil kerja keras selama bertahun-tahun! Ini aja ngerasa banget level bahasa inggrisnya belum memenuhi ekspektasi supervisor S3, karena essay dan laporan saya masih suka dihina-hina he he he…. Nah supervisor saya level Englishnya udah level editor jurnal gitu lho Bo… orang British asli pula dan he can speak French and Spanish. Di depan saya dia pernah ngobrol di telpon dengan bahasa Spanish lancaaarrr benerrr…

Untuk semua mahasiswa dan anak muda yang membaca tulisan ini, jangan putus asa dan menyerah. FIGHT!!! FIGHT!!!… improve your english everyday. Learn new words everyday. Never Give UP never Surrender!

Untuk para mahasiswa akuntansi dan calon akuntan muda, gak usah mimpi mau memenangkan persaingan global kalau bahasa inggrisnya masih kalah sama akuntan dari Philippines. Dan gak usah cengeng bilang “kita mah susah lah bersaing sama akuntan dari Philippines atau Singapore, kan mereka memang bahasa pendidikannya bahasa inggris?”. Cengeng itu mah!! Udah deh gak usah nyalahin keadaan!

Improving your English is Your Responsibility! As simple as that!


13 Comments

    • Terima kasih sudah berkunjung Mas Rudy…. Syncore lebih inspiring lagi Mas Rudy… langsung dengan aktivitas nyata membumikan SAK-ETAP dan membantu banyak organisasi lebih transparan.

  1. Dari dulu tahun 95 saya udah tahu bahwa ersa akan menjadi orang hebat… Dan baru tahu hari ini segudang prestasi yg sudah ersa miliki, sukses ya Sa….

    • OMG Miki…. tahu gak tahu sahabat pena yang aku tulis di tulisan ini yang sampai sekarang masih kontak di FB, itu salah satunya KAMU!!! You are one of my oldest friend! Masih inget beberapa yang kamu tulis di surat dulu… you helped me making such difficult decision in my life. Kenapa kita sekarang gak bersahabat pena lagi ya? ha ha ha…. minta alamat rumahmu deh, nanti aku kirimin surat dari Manchester, just like old times… LOL

  2. Awesome! Thanks Ibu untuk tulisannya.
    Im currently also thinking about how indonesian people actually are good at pronouncing english (at least the accents are quite clear-compared to Philippines who still have “ong” ended like pronounciasong, etc).
    But, not to be forgotten Ibu, our culture is somehow leaded us to feel discouraging with the ‘challenge’.
    Fortunately, u write this blog article, so hopefully it would tingle our motivation to fight and answer the challenge.
    Thanks again, Ibu.

  3. wah bagus banget bu.. bener2 menginspirasi.. saya jg suka bahasa inggris bu, ada saran ga ya bu gmn caranya ningkatin kepercayaan diri waktu ngomong pake bhs inggris? krn beberapa waktu yang lalu saya diinterview sama orang china pake bhs inggris tp belepotan jawabnya.. sesuai dengan apa yang ibu tulis banyak yang kabur kalo bule - bule di deketin sama warga local (udah pernah coba tp langsung minder mau coba lagi) jadi saya susah untuk belajar. selama ini saya belajar bhs inggris secara otodidak (ga pernah ikutan kursus). mohon masukannya bu

    • Kamu di kota mana? Coba komunikasi in English everyday. Kalau di Jakarta bisa join Toastmasters club. Cari Essentials Toastmaster Club di facebook, itu club nya ETW. Cari beberapa kawan yang sama passionnya dan bicara bahasa inggris tiap hari. Kalau ada libur/waktu luang cari bule di tempat-tempat wisata he he he gak usah malu. santai aja. kalau belepotan dikit gak pa pa. Terus kalau nonton film, coba di pause dan diulang yang diomongin di film dengan logat yang terdengar mirip di telinga.

  4. penuh inspirasi bu 🙂 semoga saya juga bisa terus semangat untuk improve my english skill ( writting , speaking, and listening ) wish me luck ya Bu.. sukses buat Ibu.. ditunggu kembali isnpirasi lainnya 🙂

  5. dear bu ersa,
    kalimat ini ” apa yang kita dapat, sesuai dengan yang kita usahakan” memang benar adanya, satu buktinya bahwa semua orang bisa bahasa inggris jika memang giat belajar seperti “petualangan” bu ersa belajar bahas inggris. walaupun mahasiswa akuntansi saya memilki ketertakikan juga di bahasa inggris bu, sampai hari ni saya ikut les. tapi masalah yang selalu ada adalah kurang nya partner untuk practice english at daily bu. terutama di kampus sehingga saya hanya practice di tempat les. minta sarannya bu..terima kasih

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *