Home » My Reflection » Menyemai Mimpi, Menjemput Takdir

Menyemai Mimpi, Menjemput Takdir

“Ma, Profesor itu apaan sih?”

“Itu gelar Nak, tandanya dia orang pinteeerrr banget.”

“Oohh gitu? Harus sekolah terus ya Ma supaya jadi Profesor?”

“Iya Sekolahnya lammaaa. Makanya Ersa harus sekolah yang pintar ya biar nanti jadi bisa Profesor”

Saya ingat percakapan antara saya dan ibu saya tersebut terjadi ketika saya kelas dua atau tiga SD. Dipicu kesebalan saya mendengarkan ibu dan ayah saya yang tak habis menyanjung-nyanjung sahabat mereka yang kebetulan seorang Profesor, dokter dan periset. Apalagi ketika profesor sahabat ayah saya ini kemudian jadi menteri di kabinet, wah orang tua saya ikutan bangga bisa punya ‘kawan’ seorang profesor. “Heran, punya kawan profesor aja bangga amat, gimana kalau nanti anaknya yang jadi profesor ya? Diceritain ke orang sekampung kali” batin saya saat itu

Menyemai Mimpi

Kata ibu saya, dari kecil impian saya banyak sekali dan berubah seiring waktu. Awalnya ingin jadi dokter (anak kecil mana sih yg gak kepengin jadi dokter?), kemudian jadi astranout karena takjub melihat bintang dan ingin ke luar angkasa. Ayah saya juga kalau kita jalan-jalan ke luar kota yang langitnya terang sering memperkenalkan rasi-rasi bintang kepada saya dan bagaimana mereka berfungsi untuk navigasi kapal laut. Ingin jadi pramugari supaya bisa sering jalan-jalan ke luar negeri naik pesawat. Kedua kakak laki-laki saya, yang salah satu hobinya ada godain saya yang doyan makan, hanya berkomentar “Lah, lu kalau jadi astronot atau pramugari mah Sa, nanti kalau lu jalan ke kiri, pesawatnya oleng ke kiri, lu jalan ke kanan pesawatnya oleng ke kanan…” Ha ha ha…. Sekarang setelah setelah saya sering naik pesawat saya jadi paham mengapa ada tinggi minimum untuk jadi seorang pramugari, lha wong saya suka susah menyimpan tas di kompartemen atas dan sering dibantu Mbak pramugarinya. Untung jadi akuntan gak perlu badan tinggi ya.

Aneka cita-cita silih berganti, kadang berubah menyesuaikan dengan film dan serial telivisi. Ingin jadi pengacara setelah nonton serial LA LAW, ingin jadi antropolog setelah nonton film Indiana Jones, ingin jadi ahli kimia setelah nonton serial McGyver, dan seterusnya. Anehnya seingat saya tidak pernah bercita-cita jadi akuntan. Bukti bahwa tidak ada tayangan TV dan Film yang bisa menginspirasi remaja menjalankan profesi mulia ini. Tapi diam diam keinginan menjadi profesor tertanam terus dan tidak pernah hilang.

Ketika saya SMA saya sudah mulai memahami bahwa untuk menjadi profesor seseorang harus bekerja sebagai akademisi. Mengajar, menulis dan melakukan riset. Dari kecil keinginan untuk mencicipi tinggal di luar negeri juga tidak pernah hilang. Sering merengek ke ayah saya minta untuk sekolah di luar negeri, ayah saya hanya berujar “Kamu persiapkan saja diri dengan baik. Bahasa inggrisnya dibagusin terus, jangan sampai nanti kalau kesempatan untuk sekolah di luar negeri itu datang, kamu tidak siap. Suatu saat takdir itu pasti akan datang.” Dan ayah saya benar, saya berhasil mencicipi sekolah di luar negeri untuk S2 dan S3 (masih berjalan) dengan beasiswa.

Kalimat ayah saya itu menjadi kredo untuk saya. Dalam hidup ini, yang kita lakukan hanyalah bersiap diri sebaik-baiknya. Sehingga bila takdir kita menjemput, kita sudah siap dan sudah pantas untuk menerima takdir tersebut.

Menjemput Takdir bersama para sahabat

Saat ini saya sedang berusaha menjemput takdir saya untuk menjadi Profesor suatu saat nanti. Menjalani program doktoral di Inggris, pada sebuah business school dengan reputasi riset mendunia tentunya tidak mudah. Namun memang jalan hidup saya sepertinya tidak pernah mudah ya. Mencari beasiswa S3 saja, total saya sudah melamar 7 kali selama kurun waktu sepuluh tahun sejak tamat S2 tahun 2003. Tujuh aplikasi beasiswa ke berbagai negara, institusi dan universitas, dengan segala persyaratannya.

Menjadi profesor bukanlah cita-cita yang mudah. Begitu banyak dosen yang akhirnya pensiun tanpa gelar profesor di tangan. Apalagi persyaratan untuk menjadi profesor semakin lama semakin ketat. Untuk itulah saya bersyukur memiliki beberapa sahabat dengan cita-cita yang sama sehingga kita bisa saling menguatkan mimpi-mimpi kita. Para sahabat ini yang mengingatkan saya untuk tetap bertahan, melakukan yang terbaik, membangkitkan semangat. Kebanyakan para sahabat ini juga saat ini sedang menempuh S3 baik di dalam dan di luar negeri.

Ketika saya galau apakah memang 2011 adalah waktu yang tepat untuk saya S3 karena saat itu saya sedang terlibat proses konvergensi IFRS dan sangat menikmati menjadi akuntan, salah satu sahabat saya berkata “Bu, nanti setelah S3 kesempatannya akan lebih terbuka lagi. Jangan takut. Menurut saya jangan ditunda.” dan nasihat sahabat saya ini saya ikuti.

Ketika selama saya PhD ini saya merasa sering merasa berada di dasar jurang, para sahabat ini yang memberikan semangat. Ada yang bilang saya harus bacain zikir di depan wajah supervisor saya biar dia luluh (saya kira becanda, ternyata serius lho dia mengusulkan ini), ada yang berempati ikutan sebal dengan supervisor saya dan ngomel-ngomel “dasar si botak” membuat saya tertawa, ada yang berempati dengan menulis di blog nya bagaimana kita harus bangkit dari kegagalan, ada yang meminta saya mendengarkan lagu penyuntik semangat di youtube, ada yang terus memberikan saya semangat seperti “Bisa, pasti bisa! Ersa sudah sering melewati badai tornado dan tantangan lebih berat dari ini!”

Bila membayangkan beratnya menjadi profesor, saya ingin sekali menyerah. Apalagi mendengar cerita sahabat saya yang susah sekali menembus jurnal internasional dan harus revisi risetnya berkali-kali. Perjalanan sebagai akademisi penuh kompetisi dan harus tahan mental menerima banyak kegagalan. Wong supervisor saya yang gelarnya sudah profesor saja masih sering ditolak risetnya di jurnal-jurnal top. Pernah suatu ketika saya berujar bahwa mungkin setelah S3 selesai saya ingin jadi akuntan saja dan gak mau lagi jadi akademisi. Tapi salah satu sahabat saya berkata “Jangan bu. Dunia pendidikan akuntansi membutuhkan ibu. Dan ibu adalah dosen pengajar yang hebat.”

Ketika saya tidak percaya diri dengan ide riset S3 saya, kok cemen banget ya risetnya? Sahabat saya yang lain menguatkan dengan mengatakan bahwa riset saya ini penting. Riset saya ini bagus, ayo segera selesaikan S3 nya tepat waktu dan kembali ke tanah air. Setiap kali saya ingin menyerah, para sahabat ini menguatkan saya, membuat saya bangkit kembali. Ada satu sahabat yang membuat saya terharu dengan mengatakan “Remember, you are my inspiration for not giving up easily”

Salah satu sahabat saya percaya bahwa takdirnya adalah menjadi menteri keuangan (selain menjadi profesor). Saya tidak berani untuk menyepelekan impiannya, karena sahabat saya ini cerdas luar biasa dan hoki banget hidupnya. Lah gimana gak hoki, wong dia melamar beasiswa S3 sekali aja langsung dapat, sementara saya melamar TIGA kali ke beasiswa yang sama, dipanggil interview aja gak. Cerdasnya suka bikin iri dan membuat saya merasa inferior kalau berdebat riset sama dia. Untung area riset kita beda, kalau dia memilih jadi ahli IFRS juga, waduuuhh… gak ada harapan saya deh. Beda dengan saya yang semangatnya menjadi profesor kadang naik turun, sahabat saya ini bahkan sudah merencanakan buku-buku yang akan diterbitkan setelah dia selesai S3 nanti. Salah satu bukunya malah sudah hampir selesai ditulis, Edan! Ambisius, cerdas, baik hati, three deadly combinations. Kalau dia nanti jadi menteri keuangan, Indonesia akan sangat beruntung.

Apapun takdir kita, mari persiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Bila takdir datang menjemput, pastikan kita sudah pantas untuk menerimanya. Dalam perjalanan menjemput takdir, kumpulkan para sahabat yang dapat saling menguatkan. Yang percaya akan impian-impian kita, menyemangati bila kita sedang jatuh, yang menyayangi kita dengan tulus.

Prof. Ersa Tri Wahyuni, PhD, CPMA, CPSAK, CPA, CA….. dalam 10 tahun lagi? Aaammiiinnnn…… Mohon do’a dan semangatnya yaaaa….

4 Agustus 2013.


3 Comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *