By: Ersa Tri Wahyuni.
Tulisan ini dimuat di Majalah Akuntan Indonesia edisi Oktober/November 2012
Profesi dokter memiliki Hari Dokter Nasional yang jatuh pada tanggal 24 Oktober. Profesi guru merayakan perayaan Hari Guru pada setiap tanggal 25 November. Bahkan anggota parlemen Indonesia yang sering diolok almarhum Gus Dur sebagai kumpulan taman kanak-kanak, pun memiliki hari parlemen Indonesia yang jatuh setiap 16 Oktober.
Akuntan di Indonesia, sebagai profesi yang disegani dan sudah eksis di negeri ini sejak tahun 50 an belum memiliki Hari Akuntan Nasional. Bandingkan dengan profesi Blogger yang baru seumur jagung (dan lebih eksis di dunia maya daripada dunia nyata) sudah memiliki hari blogger nasional yang diperingati setiap 27 Oktober, padahal mereka belum memiliki asosiasi profesi kuat layaknya profesi akuntan yang memiliki Ikatan Akuntan Indonesia. Apakah profesi akuntan kalah penting dibandingkan arsitek, bidan, jaksa, hakim, polwan, dan bahkan artis?
Apa Pentingnya Memiliki Hari Profesi Nasional?
Sangat Penting. Memiliki hari profesi yang diperingati secara nasional akan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap profesi tersebut. Pada hari itu, masyarakat dapat mengapresiasi karya-karya dan sumbangan profesi akuntan di dalam kehidupan bernegara. Di berbagai belahan negara, pelajar dianjurkan memberikan kartu ucapan terima kasih dan hadiah kecil kepada guru mereka di hari guru nasional. Menjelang peringatan hari profesi, banyak tulisan dibuat di media masa baik cetak maupun elektronik untuk mengajak masyarakat menghargai profesi tersebut.
Bayangkan para staf akuntan yang bekerja di dalam perusahaan, sebagai baut-baut kecil dari sebuah mesin besar, mereka sering sekali terlupakan. Stigma staf akuntan yang kaku, pelit, terlalu mengikuti aturan, tidak fleksibel, kurang gaul, dan sebagainya membuat masyarakat mudah melupakan jasa-jasa mereka sebagai para pendekar penjaga tiang kejujuran transaksi bisnis ini. Pada hari akuntan nasional, para pimpinan perusahaan dapat berhenti sejenak, dan memandang staf-staf akuntan mereka yang selalu bekerja dibawah tekanan (terutama menjelang tutup buku), menghampiri mereka dan menepuk bahu mereka “terima kasih ya atas kerja keras anda untuk perusahaan ini… selamat hari akuntan nasional…”
Para partner-partner di kantor akuntan publik, pada hari itu dapat berhenti sejenak, dan memandang wajah-wajah para akuntan junior mereka yang berwajah kuyu karena terlalu banyak lembur, menghampiri mereka dengan hadiah kecil sambil mengucapkan “selamat hari akuntan nasional… keep up the good work.” Waahhh… dijamin wajah-wajah kuyu tersebut akan berubah sumringah dan semakin bangga menjadi bagian dari sebuah profesi yang terhormat dan dihargai.
Kegiatan-kegiatan untuk profesi juga bisa difokuskan dan dirayakan bersama pada hari tersebut. Semua pihak yang memiliki kepentingan terhadap profesi akuntan dapat membantu meningkatkan pencitraan profesi akuntan dengan berbagai kegiatan positif. Hari Bidan Nasional misalnya yang jatuh pada setiap tanggal 24 Juni biasanya selain diperingati oleh asosiasi profesi bidan juga diperingati oleh beberapa rumah sakit dan instansi pemerintah lainnya. Ikatan Akuntan Indonesia, kementrian keuangan, Bursa Efek Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Kantor-Kantor Akuntan Publik, semuanya bisa bersatu pada hari itu untuk memperingati besarnya jasa akuntan terhadap negara ini.
Hari akuntan nasional juga akan menjadi hari dimana para akuntan melakukan refleksi atas perjalanan karir profesinya. Pada hari itu, akuntan-akuntan senior berbagi pengalaman dan visi mereka kepada para akuntan junior. Saling menguatkan mimpi-mimpi kita atas profesi akuntan di Indonesia untuk menjadi profesi yang kuat dan bermartabat. Mensyukuri pilihan hidup kita menjalani profesi mulia di muka bumi ini, sebagai akuntan yang memegang teguh nilai-nilai kejujuran dan integritas.
Kapan Sebaiknya Hari Akuntan Nasional?
Menentukan hari akuntan nasional bisa menjadi perdebatan yang menarik. Kapan sebaiknya para akuntan di Indonesia memperingati dan diperingati kemuliaan profesinya?
Awalnya terbentik ide di benak saya untuk mengusulkan 10 November sebagai hari akuntan nasional, karena pada tanggal 10 November 1494 buku Summa de Arithmetica, Geometria, Proportioni et Proportionalita diterbitkan. Buku ini sering disebut sebagai cikal bakal akuntansi double entry dan penulisnya Luca Pacioli sering disebut sebagai bapak akuntansi. Namun 10 November sudah diperingati di Indonesia sebagai Hari Pahlawan (dan juga Hari Ganefo).
Walaupun akuntan juga dapat dianggap sebagai pahlawan, namun tanggal terbitnya buku Pacioli ditandingkan dengan perang berdarah di Surabaya yang menjadi acuan hari Pahlawan? Waaahh…. kalah gengsi dan bisa jadi bahan tertawaan nanti. Lagipula… Luca Pacioli adalah warga Italia dan bukan warga negara Indonesia. Kalau sama-sama tanggal terbit buku, mengapa tidak menggunakan tanggal terbitnya PAI 1973 (Prinsip Akuntan Indonesia) sebagai standar akuntansi pertama di negeri ini?
Ide lainnya adalah hari ulang tahun kelahiran akuntan pertama di Indonesia. Namun inipun dapat menimbulkan perdebatan. Siapakah akuntan pertama di Indonesia? Apakah Prod.Dr.Abutari sebagai pemilik nomor register akuntan 001 sebagai akuntan pertama di Indonesia? Ataukah akuntan pertama adalah yang lulus dari program pendidikan akuntansi doktorandus di Indonesia (bukan hasil didikan Belanda)?
Kemudian teringatlah saya pada kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Ikatan Akuntan Indonesia pada setiap hari ulang tahunnya pada tanggal 23 Desember. Dalam beberapa tahun terakhir, IAI selalu merayakan hari ulang tahunnya dengan serangkaian kegiatan untuk para anggotanya. Banyak sekali kegiatan-kegiatan gratis seperti training yang diberikan kepada para akuntan di hari itu. Saya sendiri beberapa kali menghadiri kegiatan ulang tahun ini, dan dalam beberapa kesempatan ketika saya menjadi Direktur Teknis IAI, bahkan turut terlibat merencanakan jalannya pesta akbar tersebut.
Pada setiap tanggal 23 Desember, kegiatan serba akuntan dipusatkan di salah satu hotel di Jakarta. Serangkaian seminar, training, workshop dan makan malam megah diselenggarakan. Para akuntan senior, akuntan junior, akuntan pendidik, akuntan publik, akuntan manajemen, sektor publik, semuanya tumpah ruah jadi satu. Pada hari itu, segala embel-embel klasifikasi jenis akuntan menjadi tidak penting lagi. Beberapa kali kegiatan ini dimanfaatkan IAI untuk menjaring masukan dari para pengurus cabang dan dari para anggotanya. Perayaan setiap tahun sangat megah, sekaligus khusyuk hikmat dan bermanfaat.
Ikatan Akuntan Indonesia sebagai asosiasi profesi akuntan di Indonesia memiliki reputasi nasional dan internasional yang kokoh. Berdiri sejak tahun 1956, peran IAI terhadap kemajuan profesi akuntan dan perkembangan standar akuntansi di Indonesia sukar untuk dinafikan. Bukan hanya sebagai perekat profesi, namun Ikatan Akuntan Indonesia juga telah melahirkan dua asosiasi profesi akuntan lainnya yakni Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI) dan Ikatan Akuntan Manajemen Indonesia (IAMI), yang kesemuanya semakin saling memperkuat profesi akuntan di Indonesia.
Saya yakin 23 Desember adalah hari yang sangat tepat untuk diangkat menjadi hari akuntan nasional dan bukan sekedar menjadi hari ulang tahun ikatan akuntan Indonesia. Dalam daftar-daftar hari besar nasional, tanggal terakhir peringatan nasional adalah 22 Desember yang diperingati sebagai hari ibu. Sehingga tanggal 23 Desember belum menjadi hari peringatan apapun yang levelnya nasional. Hal ini cukup penting agar perayaan hari besar profesi ini tidak bersaing dengan perayaan atau profesi lainnya.
Suasana akhir tahun juga menjadi hari yang tepat untuk merayakan hari akuntan nasional, karena menjelang akhir tahun biasanya para akuntan menjadi luar biasa sibuk. Tanggal 23 Desember adalah seminggu sebelum tutup tahun, dan biasanya para akuntan di perusahaan sudah mulai lembur siap-siap untuk kegiatan tutup buku. Begitu juga dengan para akuntan publik sudah mulai bersiap-siap memeriksa klien mereka. Pada saat akhir tahun ini, biasanya perusahaan baru menyadari pentingnya peran para staf akuntan mereka yang selama ini sering terlupakan.
Adalah saat yang tepat bagi para akuntan untuk berhenti sejenak, melakukan refleksi atas pekerjaan yang mereka geluti dan menyadari bahwa mereka menjalani profesi yang sangat penting dan mulia di muka bumi ini. Saya membayangkan pada hari itu semua akuntan di dalam perusahaan, kantor akuntan publik, universitas, juga instansi pemerintah, mendapatkan perhatian istimewa dari rekan-rekan kerja maupun atasan mereka. Bunga, coklat, atau hadiah buku akuntansi, bertebaran di meja-meja para akuntan disertai kartu ucapan “selamat hari akuntan nasional”. Perayaan ini akan menjadi morphine bagi para akuntan untuk bekerja dengan semangat dan hati riang menjelang beban kerja yang berat di akhir tahun.
Siap-siap para Akuntan Indonesia… untuk merayakan Hari Akuntan Nasional, 23 Desember 2012 !