Home » Articles In Bahasa » Indonesia Adalah Berlian Besar Dalam Mahkota IFRS

Indonesia Adalah Berlian Besar Dalam Mahkota IFRS

Wawancara Ekslusif Ersa Tri Wahyuni dengan ketua IASB Hans Hoogervorst, 7 Maret 2013

7 Maret 2013 di dalam Masjid Istiqlal, Jakarta Indonesia

Menjadi orang nomor satu di jagad standar akuntansi dunia tentunya bukanlah pekerjaan mudah. Selalu dalam sorotan publik dan menjadi ‘corong’ untuk mempromosikan standar akuntansi internasional ke berbagai belahan dunia menjadi pekerjaan Hans Hoogervorst sebagai ketua IASB sejak Juli 2011.

Menikah dengan seorang wanita berdarah Mexico dan memiliki satu anak laki-laki berumur 16 tahun, saat ini dan Hans dan keluarga menetap di London, Inggris. Sebelum bergabung dengan IASB, Hans Hoogervorst memegang banyak posisi penting dalam pemerintahan negeri Belanda dan juga merupakan anggota IOSCO, suatu badan asosiasi pengawas pasar modal dunia. Beliau pernah menjabat menteri keuangan negeri Belanda pada tahun 2002-2003 dan juga menteri kesehatan, kesejahteraan dan olahraga tahun 2003-2007. Menamatkan sarjana di bidang sejarah pada University of Amsterdam tahun 2008, Hans kemudian melanjutkan sekolah ke John Hopkins University di Washington Amerika Serikat dan mengambil program S2 hubungan internasional.

Penetapan Hans Hoogervorst sebagai ketua IASB pada tahun 2011 banyak mengagetkan Publik. Maklum Hans dipandang lebih sebagai “orang politik” dan bukan berdarah biru akuntan. Sama sekali berbeda dengan ketua IASB sebelumnya selama sepuluh tahun Sir David Tweedie yang merupakan akuntan, sangat memahami masalah teknis akuntansi dan bahkan menjadi ketua dewan standar akuntansi Inggris sebelum menjadi ketua IASB. Namun IASB tahun 2011 tentunya menghadapi tantangan berbeda dibandingkan IASB tahun 2001 ketika Sir David Tweedie menjabat. Saat ini dua ekonomi utama dunia yakni Jepang dan Amerika Serikat (US) masih perlu diyakinkan untuk mengadopsi penuh IFRS. Seorang politikus mungkin lebih dibutuhkan daripada seorang akuntan untuk memastikan IFRS menjadi standar akuntansi global dunia.

Ersa Tri Wahyuni, penasihat Teknis IAI mendapatkan kesempatan untuk wawancara eksklusif bersama Hans Hoogevorst ketika beliau mengunjungi Jakarta untuk kegiatan IFRS International Seminar tanggal 6-7 Maret lalu. Bukan hanya wawancara ekslusif, namun pada tanggal 7 Maret sebelum bertolak ke Bangkok, Hans juga berkesempatan untuk jalan-jalan mengunjungi beberapa tempat menarik di Jakarta seperti Katedral, Masjid Istiqlal dan menikmati es krim di restoran es krim tempo dulu “Ragusa” di sekitaran Jalan Veteran Jakarta. . Kantor Pusat IAI di Menteng juga mendapat kehormatan dikunjungi oleh Pria humoris yang ternyata gemar berbatik ini.

Berikut adalah petikan wawancara dengan ketua IASB, Hans Hoogervorst:

ETW: Apa yang Hans sukai dari posisi sebagai Ketua IASB?

Saya sangat suka. Saya sebelumnya adalah ketua Financial Crisis Advisory Group yang memberikan masukan ke IASB dan FASB. Saya belajar banyak tentang akuntansi karena posisi ini dan saya masih terus belajar tiap hari. Dan itu menurut saya bagus, karena membuat saya semangat. Terkadang saya menemukan isu-isu akuntansi membosankan. Beberapa technical paper buatan staf IASB sangat sulit dipahami dan sangat teknikal. Tapi pertanyaan besarnya adalah menyangkut ekonomi. Dan saya sangat senang karena bisa memberikan kontribusi pada masalah-masalah ekonomi dunia.

Bepergian keliling dunia merupakan salah satu tugas dari jabatan ini yang juga saya sukai. Saya senang bisa berkunjung ke Jakarta dan akan ke Thailand setelah ini. Bertemu dengan kawan-kawan sesama profesi yang berjuang untuk menyelesaikan masalah mereka, berusaha menjadi bagian dari ekonomi dunia.

Kemarin misalnya saya bertemu dua orang dari Philippines dan saya senang mereka akan datang juga di Hongkong untuk IFRS Regional Policy Forum.

ETW: Kalau yang dibenci dari pekerjaan ini sebagai ketua IASB?

Pekerjaan ini menuntut banyak bepergian ke beberapa negara. Senang sih bisa mengunjungi beberapa negara tapi juga sangat melelahkan. Jadi tantangan fisiknya lumayan. Juga saya meninggalkan rumah dan kota saya di Belanda untuk tinggal di London. Cuaca di Belanda juga gak bagus-bagus amat, tapi cuaca di London jauh lebih suram. London juga lebih padat penduduknya. Jadi kualitas hidup saya sedikit menurun sekarang dibandingkan ketika saya dan keluarga tinggal di Belanda.

ETW: Apakah Hans selalu percaya bahwa dunia ini memang membutuhkan satu standar akuntansi global?

Ya, saya berpikir itu masih merupakan ide yang bagus untuk diperjuangkan. Ide tersebut sangat masuk akal. Saat ini hanya tinggal dua bahasa besar yang ada di akuntansi yakni IFRS dan US GAAP. Dan kalau kita lihat perbedaan antara keduanya, sebenarnya tidak terlalu besar juga jurang bedanya. Saya yakin suatu saat US juga akan mengadopsi IFRS suatu saat nanti. Alasannya sederhana, akuntan adalah profesi global. Perusahaan-perusahaan Amerika akan semakin sulit menemukan para akuntan yang ahli di bidang US GAAP. Sehingga akan menjadi mahal biayanya untuk US GAAP bertahan dengan standar akuntansinya.

ETW: Kalau kita umpamakan perang antara US GAAP dan IFRS, saat ini jelas IFRS memenangkan pertempuran karena semakin banyak negara saat ini yang mengadopsi IFRS. Tapi dulu US GAAP kan sangat menguasai standar akuntansi dunia. Kapan sih sebenarnya IFRS mulai memenangi pertempuran ini?

Titik kejadian paling penting adalah ketika Eropa mengadopsi IFRS tahun 2005. Tiba-tiba saja IFRS mendapatkan momentum dan kredibilitas. Juga kita mendapatkan dukungan dari World Bank dan IMF yang mempromosikan IFRS. Itu sangat penting. Sehingga IFRS mendapatkan lebih banyak lagi kredibilitas.

Kejadian lain yang penting untuk IFRS adalah krisis Asia tahun 1997an. Itu penting karena banyak investor internasional kehilangan investasinya di Asia. Banyak investor internasional yang menyadari bahwa perusahaan atau bank tempat mereka berinvestasi ternyata tidak bagus kondisi keuangannya. Investor internasional juga kemudian menyadari bahwa mereka tidak memahami laporan keuangan perusahaan-perusahan dan bank di Asia. Itu menjadi pendorong utama kebutuhan satu bahasa global. Sejak itulah IASC menjadi lebih serius bekerja dan kemudian menjadi IASB tahun 2001. Saya awalnya tidak begitu menyadari issue ini, dan memahaminya baru-baru ini saja. Menurut saya krisis ekonomi di Asia sangat mempengaruhi IASC menjadi IASB.

Per 1 Januari 2012, Indonesia telah mengadopsi hampir keseluruhan IFRS versi 1 Januari 2009 kecuali IFRS 1, IAS 41 dan IFRIC 15. Namun beberapa standar IFRS baru yang telah dikeluarkan IASB dan sudah berlaku belum diadopsi di Indonesia seperti misalnya IFRS 10 Consolidation.

ETW : Bagaimana Hans melihat konvergensi IFRS di Indonesia?

Menurut saya sayang kalau Indonesia tidak mengadopsi IFRS secara penuh karena Indonesia sudah mengeluarkan banyak sekali energy untuk melakukan konvergensi IFRS. Indonesia sudah melangkah jauh dan tinggal sedikit lagi. Kalau Indonesia tidak mengadopsi IFRS secara full maka Indonesia tidak mendapatkan keuntungan dari IFRS seperti misalnya pengakuan dunia internasional. Menurut saya enforcement dari IFRS sangat penting dan OJK akan memegang peranan penting.

ETW: Menurut Hans, konvergensi IFRS di Indonesia sudah berjalan dengan kecepatan yang tepat? Atau menurut Hans konvergensi IFRS di Indonesia berjalan terlalu lambat?

Terus terang kalau sampai Indonesia mengadopsi penuh IFRS, itu seperti batu berlian besar di mahkota kami. Karena Indonesia adalah negara yang sangat penting, sangat besar, anggota G20 dan memiliki ekonomi besar dan berpengaruh di Asia. Itulah mengapa saya datang ke Indonesia untuk mengajak Indonesia menjadi adaptor penuh IFRS. Dan setelah datang ke Indonesia saya lebih banyak paham mengenai kondisi negara ini dan mendengar banyak sentimen positif untuk adopsi IFRS.

ETW: Menurut Hans, bagaimana peran DSAK-IAI bila Indonesia sudah mengadopsi penuh IFRS? Menurut Hans nanti apakah Indonesia akan tetap butuh DSAK-IAI bila Indonesia sudah mengadopsi penuh IFRS?

Menurut saya DSAK-IAI tetap dibutuhkan misalnya untuk menyusun standar akuntansi lokal untuk perusahaan yang tidak terdaftar di pasar modal. Juga OJK dan Pemerintah pasti akan tetap membutuhkan semacam dewan yang memberikan mereka masukan mengenai standar akuntansi. Indonesia pasti membutuhkan semacam mekanisme persetujuan, dan bukan hanya sekedar menerima standar IFRS begitu saja. Menurut saya walaupun Indonesia sudah mengadopsi penuh IFRS, Indonesia tetap butuh dewan standar untuk menganalisa dampak IFRS terhadap perusahaan dan peraturan di Indonesia.

Saat ini dunia menantikan keputusan US untuk mengadopsi IFRS. Dan dunia sedikit kecewa dengan Staff paper FASB yang keluar pada Juli 2012. Dunia berharap staff paper tersebut akan memberikan rekomendasi kepada US SEC dan FASB untuk mengadopsi IFRS namun staff paper tersebut tidak memberikan rekomendasi yang diharapkan tersebut. Hal ini membuat keputusan kapan US mengadopsi IFRS menjadi tidak jelas.

ETW : Bagaimana pendapat Hans perubahan ketua FASB dengan komitmen mereka terhadap proses konvergensi IFRS dan US GAAP. Sepertinya ketika ketua FASB adalah Bob Hertz, komitment mereka terhadap konvergensi IFRS dan US GAAP lebih kuat daripada sekarang?

Terus terang dalam dua tahun terakhir, saya melihat perkembangan konvergensi IFRS dan US GAAP menjadi semakin sulit. Hal ini disebabkan ketua trustee FAF (Financial Accounting Foundation) yang mengawasi FASB mengubah komitmen mereka terhadap proses konvergensi IFRS dan US GAAP. Awalnya mereka sangat mendukung pencapaian tujuan satu standar akuntansi yang berlaku global. Bob Hertz, ketua FASB sebelumnya sangat mendukung tujuan ini, dan satu standar global yang dimaksud adalah IFRS. Ketika John J.Brennan menjadi ketua FAF, mereka mengubah tujuan mereka menjadi meningkatkan ketertandingan (comparability) antara IFRS dan US GAAP. Dengan begitu mereka seakan akan mengatakan bahwa US GAAP masih merupakan standar akuntansi global. Ya, tentunya US GAAP masih memiliki impact di ekonomi dunia tapi pengaruhnya terus berkurang. Sejak saat ini menurut saya FASB menjadi kurang kooperatif dari sebelumnya. Ketika Brennan manjadi ketua FAF, strategi mereka berubah.

ETW: Apakah Hans akan nyaman bila US tidak akan pernah mengadopsi IFRS sampai kapanpun dan tetap mempertahankan US GAAP?

Menurut saya bila mereka tetap mempertahankan US GAAP, menurut saya hal tersebut bukanlah hal yang baik. Pasar mengharapkan mereka mengadopsi IFRS, tapi itu adalah keputusan mereka dan kita tidak bisa membuat keputusan untuk US. Menurut saya pada akhirnya US akan mengadopsi IFRS. Bila mereka tidak mengadopsi IFRS, mereka akan kehilangan pengaruh dalam IFRS Foundation dan saya yakin mereka ingin terus mempertahankan pengaruh mereka di dalam IFRS Foundation.

ETW: Kapan Hans akan selesai menjabat sebagai ketua IASB?

Sekitar 3 tahun lagi lalu saya bisa dipilih satu periode lagi bila mereka masih menginginkan saya. Saya baru akan berhenti setelah berhasil menggenggam dunia. Ha ha ha….

Sebelum Hans meninggalkan Indonesia, ia mengucapkan terima kasih atas pemberian batik berwarna hijau dari IAI yang menurutnya sangat indah. Hans dengan bangga mengenakan batik tersebut dalam acara Dinner with Business Leaders pada tanggal 6 Maret 2013. Selamat Jalan Hans, semoga bisa berkunjung ke Indonesia lagi dalam kesempatan yang lain.

Tulisan ini dimuat di Majalah Akuntan Indonesia edisi April 2013

Interview ini dilakukan sambil membawa Hans Hoogervorst jalan-jalan berkeliling kota Jakarta. Kita mengunjungi kantor pusat IAI, gereja Kathedral, Masjid Istiqlal dan makan es krim Ragusa di Jl. Veteran. Interview dilakukan di dalam mobil di sela-sela perjalanan. Hans sangat senang dibawa ke Masjid Istiqlal dan kagum sekali dengan kemegahan bangunannya.


Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>