Home » Posts tagged 'DSAK' (Page 2)

Tag Archives: DSAK

Ubah IFRS 3 Business Combination, IASB Dianggap Terlalu Ambisius

Berita dimuat di website Ikatan Akuntan Indonesia

23-09-2013 09:16

 

Brussels, (20/9) - IASB yang berniat untuk melakukan evaluasi atas penerapan IFRS 3Business Combination mendapatkan peringatan pedas dari para ketua dewan standar akuntansi yang berkumpul di Brussels, Belgia pada tanggal 19-20 September 2013 dalam pertemuan forum internasional penyusun standar akuntansi (IFASS). Perwakilan dari FASB (Amerika Serikat) mempertanyakan ruang lingkup reviu yang akan dilakukan IASB yang terlalu luas sehingga dapat memicu diskusi dan perdebatan yang panjang dan pelik.

 

 

“Menurut saya ruang lingkup reviu yang akan dilakukan oleh IASB terlalu ambisius. IFRS 3 adalah standar yang rumit, berbeda dengan post implementation review IFRS 8 Segment Reporting yang baru saja dilakukan IASB. Harus sangat hati hati karena banyak isu seperti penurunan nilai goodwill, aset takberwujud dalam akuisisi, dan sebagainya,” ujar Tom Linsmeire, anggota FASB di dalam forum IFASS. Pendapat Tom diamini oleh Jarome Haas, perwakilan otoritas standar akuntansi Perancis.

 

Jepang yang berambisi untuk mengubah goodwill kembali diamortisasi angkat bicara mengusulkan bahwa seharusnya IFRS 3 yang akan dievaluasi bukan hanya versi 2008,tapi juga mundur ke IFRS 3 versi 2004 di mana amortisasi goodwill dihapus dan digantikan dengan metode penurunan nilai. Beberapa anggota delegasi negara lain seperti Meksiko mengusulkan IASB untuk berdiskusi dan berkoordinasi dengan regulator dan otoritas pasar modal dalam melakukan evaluasi ini.

 

Dua kali dalam setahun, para penyusun standar akuntansi berkumpul untuk mendiskusikan isu-isu akuntansi terhangat dan berbagi riset yang telah dilakukan satu sama lain. Tahun 2013 ini, IFASS bertemu di Sao Paulo, Brazil 17-18 April lalu dan pada bulan September ini dilaksanakan di Brussels, Belgia. Kegiatan ini juga dimanfaatkan oleh IASB untuk meminta masukan atas rencana-rencana penyusunan IFRS ke depan.

 

IFRS 3 versi 2008 telah diadopsi di Indonesia menjadi PSAK 22 Kombinasi Bisnis versi 2009 yang berlaku pada tahun 2011. Setiap standar IFRS dapat dievaluasi oleh IASB bila dirasa perlu setidaknya dua tahun setelah standar tersebut berlaku. Mengingat IFRS 3 telah berlaku sejak tahun 2008, IASB banyak menerima masukan dan berniat melakukan evaluasi menyeluruh dari IFRS 3 ini. IASB berniat menerbitkan Publication Request for Information (RFI) pada bulan Desember 2013 setelah melakukan beragam diskusi dengan banyak pihak mengenai hal hal apa saja yang perlu ditanyakan dalam RFI ini.

 

Selain IFRS 3, diskusi IFASS juga diwarnai dengan perdebatan panas mengenai mekanisme kerja antara IASB dan dewan standar akuntansi negara-negara lain. Isu implementasi lainnya misalnya diusung Belanda yang mengusulkan revisi atas IFRS 12 mengenai pengungkapan bagian NCI (non-controlling interest) atas beberapa elemen laporan keuangan. IFRS 12 saat ini dirasa kurang membantu analis dan investor dalam menganalisis bagian NCI, namun usulan Belanda kurang mendapatkan dukungan dari delegasi negara-negara lain . India juga mengusulkan klarifikasi atas “exceptional items” yang menimbulkan praktik pelaporan beragam di India.

 

Indonesia dalam forum ini diwakili oleh ketua DSAK, Rosita Uli Sinaga dan technical advisor IAI, Ersa Tri Wahyuni yang juga akan mengikuti World Standard Setter Conference (WSS) di London pada tanggal 23-24 September 2014. “Mengikuti kegiatan dan diskusi seperti ini sangat penting bagi Indonesia sehingga bisa mendapatkan banyak pelajaran dari para negara yang sudah lebih dulu menerapkan IFRS. Contohnya IFRS 12 di Indonesia baru saja akan diadopsi, tapi Belanda malah sudah mengusulkan ada revisi. Menurut saya IFASS juga sangat penting karena sudah terbukti yang dibahas di IFASS dapat menjadi agenda kerja IASB di masa depan.“ ujar Rosita. WSS di London akan membahas banyak agenda terutama perubahan kerangka konseptual yang sedang dilakukan oleh IASB. (Ersa Tri Wahyuni)

Refleksi Tengah Tahun 2013: Apakah Adopsi IFRS secara Global Telah Menjadi Kenyataan?

Ditulis oleh Ersa Tri Wahyuni. Artikel ini dimuat dalam majalah Akuntan Indonesia edisi Juli 2013.

Bulan Juni sebagai pertengahan tahun adalah masa yang tepat untuk melakukan refleksi atas proses adopsi IFRS di berbagai negara di dunia. Momentum tengah tahun ini juga tidak dilewati oleh IASB untuk membuat pernyataan publik yang optimis atas penerapan IFRS di seluruh dunia. Pidato ketua IASB tanggal 5 Juni 2013 di Hong Kong dalam acara IFRS Regional Policy Forum misalnya memaparkan hasil survey yang dilakukan oleh IFRS Foundation terhadap 66 negara atau jurisdiksi tentang status penerapan IFRS di jurisdiksi masing-masing.

Hasil survey ini menurut ketua IASB sangat membesarkan hati, karena dari (more…)

Menuju DSAK-IAI Yang lebih Transparan dan Percaya Diri dalam Gelombang Konvergensi IFRS

I had so much fun when I wrote this…. so I republish it again…. (ETW, Manchester, 10 July 2013)

Oleh Ersa Tri Wahyuni

Tulisan ini dimuat dalam kolom Opini majalan Akuntan Indonesia edisi Ulang Tahun, 23 Desember 2011.
Sore itu tanggal 22 Desember 2009, di Graha Akuntan, Sindaglaya Menteng, wajah-wajah tegang DSAK dan tim teknis tengah berdiskusi di dalam rapat pleno DSAK yang sangat penting. Agenda rapat hari itu sangat padat. Bulan Desember 2009, DSAK melaksanakan rapat hampir setiap minggu. Agenda rapat hari itu adalah mengesahkan beberapa PSAK yang telah tutup masa komentarnya. Rapat tanggal 22 Desember 2009 terasa lebih menegangkan karena esoknya tanggal 23 Desember 2009, DSAK-IAI akan mengadakan public hearing istimewa. Public Hearing dilaksanakan di tempat yang lebih extravagant daripada biasanya yakni di Hotel Ritz Carlton karena akan dilanjutkan dengan perayaan HUT IAI ke 52. Tepat setahun setelah dicanangkannya Konvergensi IFRS pada HUT IAI 23 Desember 2008, Ketua DSAK-IAI harus tampil percaya diri memaparkan perkembangan proses konvergensi IFRS.

Tanggal 23 Desember 2009 adalah hari yang penting karena pada hari itu dilaksanakan exposure draft empat PSAK dan pengesahan 19 produk DSAK (enam produk diantaranya disahkan dalam rapat 22 Desember 2009) yang terdiri dari 10 PSAK, 5 ISAK dan 4 PPSAK. Roda konvergensi IFRS di Indonesia mulai bergulir kencang, membuat banyak orang tercengang dan terengah-engah mempelajari begitu banyak PSAK baru yang disahkan pada akhir tahun 2009. (more…)